Rabu, 08 Juni 2011

terusi

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Salah satu logam yang cukup terkenal dari golongan transisi adalah tembaga (Cu), merupakan satu dari tiga logam dalam golongan I B atau golongan koin. Tembaga banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari salah satunya sebagai bahan dasar kabel listrik karena daya hantar listriknya yang sangat tinggi.
Tembaga atau Cupper berlambang unsur Cu berasal dari bahasa yunani kypros atau siprus berarti merah. Tembaga adalah salah satu dari dua logam dibumi selain emas yang berwarna merah atau kekuningan, mempunyai nomor atom 29 dengan kepadatan 8,92 g/ cm3. Tembaga murni mencair pada suhu 1083° C dan akan menjadi uap atau mendidih pada suhu 2567° C pada tekanan normal. Dalam Sistim Periodik Unsur masuk di golongan IB, satu golongan dengan perak dan emas yang berarti bahwa tembaga adalah salah satu dari logam mulia, itu karena tingkat kereaktifannya yang rendah.
Tembaga juga banyak digunakan dalam bentuk senyawanya, salah satu yang cukup terkenal adalah tembaga sulfat pentahidrat (CuSO4.5H2O) atau dikenal dengan terusi, merupakan kristal berwarna biru, cukup banyak dijumpai di laboratorium kimia sebagai bahan penyerap uap air pada eksikator atau desikator. Melalui pemaparan maka pada laporan ini membahas tentang seputar pembuatan garam terusi.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari percobaan ini yaitu:
1. Bagaimana teknik pembuatan terusi?
2. Berapa rendamen terusi yang dihasilkan?

C. Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini yaitu:
1. Mengenal teknik pembuatan terusi.
2. Menghitung rendamen kristal terusi.

D. Manfaat Percobaan
Manfaat dari percobaan ini ialah:
1. Mahasiswa dapat menetahui teknik dalam pembuatan terusi.
2. Mahasiswa dapat mengetahui cara menghitung rendamen terusi.














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Unsur Cu bersumber dari hasil pelapukan atau pelarutan mineral-mineral yang terkandung dalam bebatuan. Penambahan Cu ke dalam tanah melalui polusi dapat terjadi pada industri-industri tembaga, pembakaran batu bara, pembakaran kayu, minyak bumi dan buangan di area pemukiman atau perkotaan. Pengukuran kadar tembaga (Cu) digunakan panjang gelombang 342,7 nm, dengan menggunakan nyala udara- asetilen. Pengukuran absorban untuk setiap larutan standar dan larutan sampel dilakukan dengan tiga kali ulangan sehingga nilai absorban yang didapatkan merupakan rata-rata dari nilai absorban hasil pengukuran.
Tembaga adalah logam berdaya hantar listrik tinggi, maka dipakai sebagai kabel listrik. Tembaga tidak larut dalam asam yang bukan pengoksidasi tetapi tembaga teroksidasi oleh HNO3 sehingga tembaga larut dalam HNO3.
5Cu (s) + 12H+(aq) + 2NO3 ˉ (aq) → 5Cu2+(aq) + 2NO(g) + 6H2O
Tembaga tidak melimpah (55 ppm) namun terdistribusi secara luas sebagai logam, dalam sulfida, arsenida, klorida, dan karbonat. Mineral yang paling umum adalah
oksidatif, atau dengan pencucian dengan bantuan mikroba, yang diikuti oleh elektrodeposisi dari larutan sulfat.
Sifat-sifat tembaga antara lain, kuat dan ulet, dapat ditempa, tahan korosi, penghantar listrik dan panas yang baik dan logam yang kurang aktif. Bijih tembaga yang terpenting adalah berupa sulfida seperti kalkosit dan kalkopirit. Penambangan tembaga di Indonesia terdapat di Papua, Sulut, Jabar dan beberapa daerah lain di Indonesia. Penggunaan tembaga, untuk kawat listrik dan Untuk membuat logam paduan seperti:
1. Kupronikel, terdiri dari 75% Cu dan Ni 25% , untuk membuat koin.
2. Duralium, terdiri dari Al 96% dan Cu 4% , untuk komponen pesawat.
3. Kuningan, terdiri dari Cu 70% dan Zn 30% , untuk alat musik dan berbagai aksesoris.
4. Perunggu, terdiri dari Cu 95% dan Sn 5%, untuk membuat patung dan ornament
Tembaga murni merupakan penghantar panas tertinggi di antara semua logam dan konduktor listrik kedua setelah perak. Tembaga adalah logam yang relatif lunak dan sering digunakan sebagai logam paduan, misalnya kuningan dan perunggu. Tembaga terdapat terutama sebagai sulfida, oksida atau karbonat, sebagai bijih tembaga pirit, kalkopirit (chalcopyrite) yaitu tembaga (I) besi (III) sulfida, CuFeS2, tembaga glance kalkosit (chalcocite), Cu2S, kuprit (cuprite), Cu2O, dan malasit (malachite), Cu2CO3(OH). Mineral yang lebih jarang yaitu turkuis (turquoise) batu permata biru, CuAl6(PO4)4(OH)8.4H2O.
Pada dasarnya, tembaga bukanlah logam reaktif, namun logam ini dapat diserang oleh asam-asam pekat. Secara khusus, tembaga bereaksi dengan asam hidroklorida pekat mendidih dengan menghasilkan larutan tak berwarna dan gas hidrogen. Tembaga (I) klorida harus segera dipisahkan, dicuci dan disimpan bebas udara, sebab interaksi dengan udara dan uap air akan menghasilkan tembaga (II).
Pada umumnya senyawa tembaga (I) tidak berwarna atau putih, karena ion ini mempumyai konfigurasi elektronik penuh, 3d10. Dalam larutan air, ion tembaga (I) terhidrat tidak stabil dan mengalami disproporsionasi menjadi ion tembaga (II) sesuai dengan ramalan diagram potensial reduksi Frost.
Cu+ (aq) Cu2+(aq) + Cu(s)
Tembaga membentuk senyawa dengan tingkat oksida +1 dan +2, namun hanya tembaga (II) yang stabil dan mendominasi dalam air, hampir semua garam tembaga (II) berwarna biru, yang karakteristik dari warna ion kompleks koordinasi 6, [Cu(H2O6]2+. Kekecualian yang terkenal yaitu tembaga (II) klorida yang berwarna kehijauan oleh karena ion kompleks [CuCl4]2- yang mempunyai bangun geometri dasar tetrahedral atau bujur sangkar bergantung pada kation pasangannya. Dalam larutan encer dia menjadi warna biru karena pendesakan ligan Cl- oleh ligan H2O. Oleh karena itu, jika warna hijau ingin dipertahankan, ke dalam larutan pekat CuCl2 dalam air ditambahkan ion Cl- dengan penambahan padatan NaCl atau HCl pekat atau gas.
[CuCl4]2- (aq) + 6 H2O (l) [Cu(H2O)6]2+ (aq) + 2 Cl- (aq)
Adanya gugus sulfat baik sebagai SO42- maupun HSO4- dalam endapan tersebut dapat ditunjukkan oleh serapan khas spectrum infrared yang muncul pada daerah 600-1200 cm-1. Secara kualitatif, adanya ion sulfat dapat dibuktikan dengan perlakuan berikut. Endapan biru, setelah dipisahkan dari larutannya dengan penyaringan dan pencucian dengan air berkali-kali, dilarutkan dengtan HCl, dan terjadinya endapan putih pada penambahan larutan BaCl2 ke dalam larutan ini membuktikan adanya ion sulfat dalam endapan semula. Tetapi, jika prosedur penambahan dibalik, yaitu ke dalam larutan NaOH ditambahkan larutan CuSO4, maka peran ion sulfat dalam endapan menjadi berkurang bahkan lenyap hingga endapan biru muda didominasi oleh Cu(OH)2, uji adanya ion sulfat dalam endapan biru muda ini tentu saja negatif.
Tembaga (II) sulfat mempunyai banyak kegunaan di bidang industri diantaranya untuk membuat campuran Bordeaux (sejenis fungisida) dan senyawa tembaga lainnya. Senyawa ini juga digunakan dalam penyepuhan dan pewarnaan tekstil serta sebagai bahan pengawet kayu. Bentuk anhidratnya digunakan untuk mendeteksi air dalam jumlah kelumit. Tembaga sulfat juga dikenal sebagai vitriol biru.
Tembaga (II) sulfat merupakan padatan kristal biru, CuSO4.5H2O triklini. Pentahidratnya kehilangan 4 molekul air pada 1100 C dan yang ke lima pada 1500C membentuk senyawa anhidrat berwarna putih. Pentahidrat ini dibuat dengan mereaksikan tembaga (II) oksida atau tembaga (II) karbonat dengan H2SO4 encer, larutannya dipanaskan hingga jenuh dan pentahidrat yang biru mengkristal jika didinginkan. Pada skala industri, senyawa ini dibuat dengan memompa udara melaluicampuran tembaga panas dengan H2SO4 encer. Dalam bentuk pentahidrat, setiap ion tembaga (II) dikelilingi oleh empat molekul air pada setiap sudut segi empat, kedudukan kelima dan keenam dari oktahedral ditempati oleh atom oksigen dari anion sulfat, sedangkan molekul air kelima terikat oleh ikatan hidrogen. Salah satu sifat dari logam tembaga yaitu tembaga tidak larut dalam asam yang bukan pengoksidasi tetapi tembaga teroksidasi oleh HNO3 sehingga tembaga larut dalam HNO3.
3Cu(s)¬ + 8H+(aq) + 2NO3-(aq) 3Cu2+(aq)¬ + 2NO(g) + 4H2O
Logam tembaga dibuat dari tembaga sulfida (Cu2S) yang dioksidasi dengan oksigen.
Cu2S + 2O2 2CuO + SO2
2CuO + Cu2S SO2 + 4Cu
Garam tembaga dalam larutan berwarna biru pucat, karena membentuk ion Cu(H2O)42+. Jika larutan ini ditambah amonia akan menghasilkan ion Cu(NH3)42+ yang berwarna biru pekat. Senyawa CuCl2, Cu2Br2, Cu2I2 sukar larut dalam air dengan Ksp masing-masing 1,9.10-7, 5.10-9 dan 1.10-12. Senyawa Cu2O dan Cu2S dapat dibuat langsung dari unsurnya pada suhu tinggi. Kedua senyawa ini cenderung nonstoikiometrik karena dapat pula sebagian membentuk CuO dan CuS.
Padatan yang mengandung molekul-molekul senyawaan bersama-sama dengan molekul air disebut hidrat. Sebagian besar terdiri atas molekul-molekul air baik terikat pada kation melalui atom oksigen, atau terikat kepada anion atau atom yang kaya elektron melalui hidrogen atau keduanya. Pada banyak kasus bila hidrat dipanaskan di atas 100°C, air dapat dikeluarkan dan meninggalkan senyawaan anhidridanya. Jumlah molekul air biasanya tertentu dan terikat pada kation melalui atom oksigen atau pada anion atau spesies kaya elektron melalui atom hidrogen. Biasanya senyawa hidrat akan melepaskan air kristalnya bila dipanaskan, dan dapat diperoleh senyawa anhydrous (nin-hidrat) yang sering mempunyai sifat-sifat berbeda. Misalnya senyawa CuSO4.5H2O yang berwarna biru bila dipanaskan dapat diperoleh senyawa anhydrous CuSO4 yang berwarna putih.
Tembaga sulfat merupakan senyawa tembaga yang paling penting, dan lebih dari 29000 ton dibuat pada tahun 1976. Zat ini dikenal terusi (blue vitrol) dan dibuat melalui aksi asam sulfat terhadap kupri oksida atau bijih sulfida. Zat ini bersifat racun dan digunakan dalam campuran fungisida Bordeaux, yang dibuat melalui pencampuran larutan tembaga sulfat dengan susu gamping. Tembaga sulfat biasa ditambahkan ke dalam resevoar air untuk membunuh algae. Zat ini digunakan dalam sepuh listrik dan juga sedikit sebagai pewarna, germisida serta bahan ukir logam. Senyawa-senyawa tembaga tertentu ditambahkan ke dalam cat yang digunakan untuk dasar kapal untuk mencegah pelekatan organisme laut.
Larutan standar tembaga di buat dari senyawa CuSO4.5H2O. Larutan induk Cu di buat dengan cara menimbang 982,281 mg kristal CuSO4.5H2O dalam beker gelas, kemudian di larutkan dengan air, selanjutnya setelah semua larut dipindahkan ke dalam labu ukur 250 mL. Setelah itu menambahkan akuades sampai volume tanda batas. Larutan standar yang di peroleh mempunyai konsentrasi 1000 ppm. Selanjutnya dari larutan standar 1000 ppm di buat larutan standar 10 ppm dengan cara mengambil sebanyak 1 mL larutan standar 1000 ppm kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL, selanjutnya ditambahkan akuades sampai tanda batas. Selanjutnya dibuat larutan standar 2 ppm, 1 ppm, 0,5 ppm, dan 0,25 ppm, dan masing-masing larutan standar tersebut dibuat untuk tiga kali ulangan sebanyak 10 mL.
Pada analisis tembaga yaitu menimbang 8,0 gram sampel kering kemudian dimasukkan ke dalam beker gelas. Selanjutnya ditambahkan 10 ml HNO3 pekat dan diamkan 1 malam untuk permulaan dekomposisi. Setelah itu dipanaskan selama 2 jam dan dijaga jangan sampai meluap atau tumpah. Menambahkan 5 mL HNO3 pekat ke dalam beker gelas, kemudian dipanaskan lagi selama 2 jam. Menambahkan 5 mL HNO3 pekat, dipanaskan selama 3 jam atau sampai diperoleh larutan jernih kekuningan. Pemanasan dilanjutkan sampai sisa HNO3 menguap kemudian didinginkan. Memindahkan larutan ke labu ukur 50 mL dan ditambahkan akuades sampai tanda batas. Mengocok sampai homogen kemudian disaring.
Asam yang dapat melarutkan tembaga dan perak adalah asam nitrat, HNO3. Asam ini adalah salah satu contoh dari asam pengoksidasi, selain ion H+ , larutan asam ini juga mengandung ion nitrat, suatu oksi¬dator yang lebih hebat dari pada ion H+. Reaksi yang hebat antara tembaga dan HNO3 pekat diperlihatkan dengan menghasilkan gas merah coklat yang keluar adalah nitrogen dioksida, NO2, yang terbentuk pada reaksi
Cu(s) + 2NO3- (aq) + 4H+(aq) Cu2+(aq) + 2NO2 (g) + 2H20
Pada reaksi ini ion, 2NO3 - direduksi menjadi NO2. Gas H2 tak terbentuk sebab H+ tak direduksi, ion hidrogennya bergabung dengan H20 yang juga dihasilkan reaksi ini. Bila NO3-bekerja sebagai oksidator, hasilnya tergantung pada suatu tingkat dari berapa kepekatan dari asamnya. Misalnya dengan tembaga terjadi reaksi-reaksi berikut:
Dengan HNO3 encer
3Cu(s) + 2 NO3- (aq) + 8H+(aq) 3Cu2+(aq) + 2NO(g) + 4 H20
Dengan HNO3 pekat
Cu(s) + 2 NO3- aq) + 8H+(aq) Cu2+(aq) + 2NO2(g) + 2 H2O



Asam sulfat adalah bahan kimia yang diproduksi dalam jumlah besar di dunia. Manfaatnya berkisar mulai dari pengolahan logam sampai produksi obat-obatan dan manufaktur pupuk. Penggunaan-penggunaan baru asam ini merangsang pencarian cara-cara baru untuk memproduksinya dengan menurunnya harga, penggunaan-penggunaan lebih lanjut ini ditemukan dan dieksploitasi. Dari tahun 1750 sampai 1900, harga asam sulfat menurun secara lunak dan jumlah yang diproduksi tumbuhan dengan sangat cepat. Rangsangan mutual antara penggunaan baru dan proses baru ini merupakan pertanda industri kimia, bahkan sampai sekarang dan kisah tentang asam sulfat adalah contoh yang baik untuk menggambarkannya. Asam sulfat mungkin pertama kali dihasilkan oleh alkimiawan yang memanaskan vitriol hijau kristalin, atau besi(II) sulfat heptahidrat.
Asam sulfat merupakan salah satu asam kuat yang mempunyai banyak fungsi antara lain :
1. Berfungsi sebagai zat pengoksidasi (oksidator).
2. Pembuatan pupuk amonium sulfat (ZA) dan asam fosfat (H3PO4).
3. Pemurnian minyak tanah.
4. Menghilangkan karat besi pada industri baja sebelum bajanya dilapisi tanah atau seng.
5. Pembuatan zat warna.
6. Industri tekstil, cat, plastik, akumulator (aki) dan bahan peledak.



BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat
Hari/Tanggal : Jum’at, 23 Mei 2011
Pukul : 08.00 – 11.00 WITA
Tempat : Laboratorium Kimia Anorganik. Fakultas Sains Dan Teknologi, UIN Alauddin Makassar.


B. Alat dan Bahan
Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu, batang pengaduk dan botol semprot, bulp, cawan penguapan 100 mL, corong, erlenmeyer 300 mL, gelas kimia 600 mL, neraca analitik, pemanas listrik, pipet skala 10 mL dan pipet skala 25 mL.
2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu, aquadest (H2O), asam nitrat pekat (HNO3), asam sulfat pekat (H2SO4), kertas saring dan serbuk tembaga (Cu).






C. Prosedur Kerja
Memasukkan 25 ml air kedalam gelas piala 500 ml, lalu menambahkan dengan 3,25 ml asam sulfat pekat (H2SO4) sambil mengaduk.
Menimbang 2,5 gr serbuk tembaga dan memasukkan kedalam gelas piala yang berisi asam sulfat pekat (H2SO4). Tahap selanjutnya dikerjakan diluar labortorium.
Kedalam gelas piala tersebut, menambahkan 12,5 ml asam nitrat pekat (HNO3), mengaduk sampai semua tembaga melarut. Membiarkan hingga tidak keluar uap cokelat.
Memanaskan dalam ruang asam, sampai gas cokelat tua tidak keluar lagi.
Jika masih ada tembaga yang tidak larut, saring ketika masih panas-panas.
Setelah itu, membiarkan larutan pada suhu kamar sampai terbentuk kristal.
Menguji larutan garam dengan uji nitrat, bila belum bebas nitrat maka mencuci larutan dengan aquadest, kemudian memanaskan larutan. Mengulangi perlakuan hingga bebas nitrat.
Menimbang dan melaporkan hasil yang diperoleh.









BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan
Zat yang bereaksi Perubahan
H2O + H2SO4 + serutan tembaga (Cu) Bening
Larutan + HNO3 Larutan hijau
Dipanaskan Larutan hijau
Didinginkan Larutan hijau tak ada kristal

Reaksi
Oksidasi: Cu Cu2+ + 2 e- x 3
Reduksi: NO3- + 4H+ + 3 e- NO + 2H2O x 2

Reaksi Redoks: 3 Cu → 3 Cu2+ + 6e-
2NO3- + 8H+ + 6e- → 2 NO↑ + 4 H2O
3Cu + 2NO3- + 8H+ → 3 Cu2+ + 2 NO↑ + 4 H2O
Reaksi lengkap:
3Cu + 2HNO3 + 3H2SO4 3CuSO4 + 2NO + 4H2O
CuSO4 + 5H2O CuSO4.5H2O



C. Perhitungan
Berat Teori
Mol CuSO4. 5H2O = mol Cu
= (massa Cu)/(Ar Cu)
Mol CuSO4. 5H2O = (2,5 g)/(64 g/mol)
Mol CuSO4. 5H2O = 0,0390 mol
Mr CuSO4. 5H2O = (1 x Ar Cu) + (1 x Ar S) + (10 x Ar H) +
(9 x Ar O)
= 64 g/mol + 32 g/mol + 10 g/mol + 144 g/mol
= 250 g/mol
Massa CuSO4. 5H2O = mol x Mr
= 0,0390 mol x 250 g/mol
= 9,7500 g
Berat Praktek
Massa cawan = 60,7524 g
Massa kristal = 0 g
Rendamen
Rendamen = (massa praktek)/(massa teori ) x 100%
= (0 g)/(9,7500 g) x 100%
= 0 %




D. Pembahasan
Pada percobaan ini dimana bertujuan untuk mengetahui teknik pembuatan terusi. Pada percobaan ini bahan yang digunakan yaitu, aquadest (H2O), asam nitrat pekat (HNO3), asam sulfat pekat (H2SO4), kertas saring dan serbuk tembaga (Cu), hal yang pertama dilakukan yaitu mereaksikan H2SO4 pekat 3,25 ml dan air 25 ml, dimana air terlebih dahulu dimasukkan ke dalam gelas kimia kemudian asam sulfat (H2SO4) agar tidak terjadi ledakan karena pengenceran asam sulfat pekat dengan air menghasilkan panas (eksotermis) akan terjadi reaksi:
H2SO4 (aq) + H2O(l) H3O+ (aq) + HSO4 ˉ(aq).
Daya tarik H2SO4 terhadap air sangat kuat. Selanjutnya penambahan 2,5 gram serbuk tembaga (Cu) pada larutan tersebut tidak akan membuat serbuk tembaga tersebut menjadi larut, tetapi larutan asam sulfat tersebut berfungsi untuk membuat suasana asam dan membentuk gugus sulfat pada tembaga hingga terbentuk tembaga sulfat. Maka untuk melarutkan tembaga ditambahkan 12,5 ml HNO3 pekat, karena tembaga dapat teroksidasi oleh HNO3 pekat dan larut dengan reaksi:
3Cu(s) + 8H+(aq) + 2NO3 ˉ(aq) 3Cu2+(aq) + 2NO(g) + 4H2O(l).
Gas yang dikeluarkan pada dasarnya adalah gas NO yang tidak berwarna, namun pada percobaan ini gas yang dihasilkan berwarna cokelat, karena gas NO sangat reaktif terhadap oksigen membentuk gas NO2 yang berwarna cokelat, terdapat endapan dan berasap, menurut persamaan reaksi:


2NO(g) + O2(g) 2NO2(g)
Setelah itu dilakukan pemanasan sampai gas berwarna cokelat tidak keluar lagi. Pemanasan berfungsi untuk mempercepat reaksi, kemudian didihkan larutan sampai berbentuk kristal. Mencuci kristal dengan sedikit air dan mengkristalkan kembali.
Pada pecobaan ini, tidak terbentuk kristal karena ternyata garam terusi belum bebas dari nitrat, dimana dengan adanya nitrat akan mampu melarutkan garam terusi, karena hampir semua garam akan larut dalam asam nitrat. Hal lain yang menyebabkan tidak terbentuknya kristal yaitu tembaga yang digunakan tidak bagus.
























BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesimpulan dari percobaan ini yaitu:
1. Garam terusi (CuSO4.5H2O) dapat dibuat dengan teknik kristalisasi, dimana garam tembaga sulfat (CuSO4) yang berwarna biru.
2. Rendamen yang diperpleh sebesar 0%

B. Saran
Saran yang ada setelah praktikum ialah praktikan hendaknya dalam proses rekristalisasi larutan dipanaskan hingga nyaris kering, agar proses kristalisasi lebih sempurna.


















DAFTAR PUSTAKA



Ananto, Prasetyo. Profil Kandungan Logam Berat Merkuri (Hg) dan Tembaga (Cu) Dalam Daging Kupang Beras. http:// Wordpress. Org/1990/3/Ananto (10/06/2002).

Anonim. “Teknim Pembuatan Terusi” 2009. http://wikipedia.indonesia, (20 Mei 2011).

Anonim, 2010. “Pembuatan CuSO4.5H2O”. Eko Cahyono Blog. (20 Mei 2011).

Anonim. 2009. “Tembaga (Cu”). http://inherent.brawijaya.ac.id. (20 Mei 2011).

Geoffrey, Wilkinson dan Cotton F. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta: Universitas Indonesia. 1989.

George T Austin. Shreve’s Chemical Process Industries. ter. E, Jasjfi. Industri Proses Kimia. Jakarta: Erlangga. 1996.

Harjadi, W. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: Erlangga. 1989.

Napitupulu, Monang. Analisis Logam Berat Seng, Kadmium dan Tembaga Pada Berbagai Tingkat Kemiringan Tanah Hutan Tanaman Industri PT. Toba Pulp Lestari Dengan Metode Spektrometri Serapan Atom (SSA). http:// Wordpress. Org/1990/3/Monang (08/07/2008).

Sugiyarto, Kristian Handoyo. Kimia Anorganik II. Yogyakarta: FMIPA Universitas Negeri. 2001.














LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Praktikum Kimia Anorganik dengan judul “Pembuatan Terusi”, yang disusun oleh:
Nama : Nurfitriani
Nim : 60500108013
Kelompok : III (Tiga)
telah diperiksa dengan teliti oleh asisten / koordinator asisten, maka dinyatakan diterima.
Samata, April 2011
Koordinator Asisten Asisten

( Anna Handayani. S.Si ) ( Fitria Azis. S.Si,S.Pd )



Mengetahui,
Dosen Penanggung Jawab



( SYAMSIDAR HS, S.T.,M.Si )
Nip:

1 komentar:

  1. Mau nanya nih,cara merubah warna batu hitam tembaga agar berwarna biru bagaimana ?thanks sebelumnya

    BalasHapus