Rabu, 08 Juni 2011

laporan gravimetri

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tahap pengukuran dalam metode gravimetrik adalah penimbangan. Analitnya secara fisik dipisahkan dari semua komponen lain dari sampel itu maupun dari pelarutnya. Pengendapan merupakan teknik yang paling meluas penggunaannya untuk memisahkan analit dari pengganggu-pengganggunya. Analisa gravimetri merupakan suatu cara analisa kimia kuantitatif yang didasarkan pada prinsip penimbangan berat yang di dapat dari proses pemisahan analit dari zat – zat lain dengan metode pengendapan. Zat yang telah di endapkan ini di saring dan dikeringkan serta ditimbang dan diusahakan endapan itu harus semurni mungkin. Untuk memisahkan endapan tersebut maka sangat dibutuhkan pengetahuan dan teknik yang cukup yang wajib dimiliki seorang enginer.
Dalam dunia teknik kimia sangat dibutuhkan juga bagaimana cara analisa gravimetri ini. Seperti halnya dalam industri, untuk mendukung kinerja kita sebagai insinyur teknik cara analisa ini mungkin juga sangat penting.
Paparan dimulai dengan mengemukakan landasan pemeriksaan, dilanjutkan dengan menjelaskan proses pengendapan, pemilihan keadaan yang baik untuk pengendapan dan proses pengendapan dari larutan serba sama kemudian mengenai penimbangan. Untuk lebih memahami mengenai gravimetric maka dilakukanlah percobaan ini.

Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari percobaan ini yaitu bagaimana cara mentukan kadar sulfat dalam contoh sabagai gravimetri.

Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan kadar sulfat dalam contoh sebagai gravimetri.

Manfaat Percobaan
Adapun manfaat dari percobaan ini adalah:
1. Mahasiswa mampu menentukan kadar sulfat dalam contoh sebagai gravimetri.
2. Mahasiswa mampu mengetahui teknik penggunaan alat dalam anlisis gravimetri.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Dalam analisis kuantitatif selalu memfokuskan pada jumlah atau kuantitas dari sebuah sampel, pengukuran sampel dapat dilakukan dengan menghitung berat zat, menghitung volume atau menghitung konsentrasi. Gravimetri merupakan penetapan kuantitas atau jumlah sampel melalui penghitungan berat zat. Sehingga dalam gravimetri produk harus selalu dalam bentuk padatan (solid). Alat utama dalam gravimetri adalah timbangan dengan tingkat ketelitian yang baik. Umumnya reaksi kimia tidak dalam ukuran besar seperti kilogram, namun dalam satuan yang lebih kecil seperti gram dan mili gram. Timbangan yang dipergunakan memiliki ketelitian yang tinggi atau kepekaan yang tinggi dan disebut dengan neraca analitik atau analytical balance.
Gravimetri merupakan cara pemeriksaan jumlah zat paling tua dan paling sederhana dibandingkan dengan cara pemeriksaan gravimetri lainnya. Kesederhanaan itu jelas kelihatan karena dalam gravimetri jumlah zat ditentukan dengan menimbang langsung massa zat yang dipisahkan dari zat-zat lain. Pada dasarnya pemisahan dilakukan dengan cara sebagai berikut. Mula-mula cuplikan zat dilarutkan dalam pelarut yang sesuai lalu ditambahkan dengan zat pengendap. Endapan yang terbentuk disaring, dicuci, dikeringkan atau dipijarkan dan setelah dingin ditimbang. Kemudian jumlah zat yang ditentukan dihitung dari faktor stoikiometrinya. Hasilnya disajikan sebagai presentase bobot zat dalam cuplikan semula. Meskipun gravimetri merupakan cara pemeriksaan kimia terhitung yang paling tua dan paling jelas urutan cara kerjanya, namun pemakaiannya terbatas karena pengerjaannya memakan waktu yang lama. Selain itu, berbagai persyaratan harus dipenuhi agar penentuan terhitung dapat dilakukan dengan memuaskan. Persyaratan itu antara lain: yang pertama, zat yang akan ditentukan harus dapat diendapkan secara terhitung (sekurang-kurangnya 99,9% kesempurnaan pengendapannya). Ini berarti bahwa pengendapan yang terbentuk harus cukup sukar larut. Umumnya endapan yang dipakai dalam gravimetri mempunyai kelarutan atau hasil kali kelarutan yang sangat rendah, sehingga kehilangan zat disebabkan oleh kelarutannya dapat diabaikan, selain itu zat pengandap yang berlebihan harus ditambahkan pada proses pengendapan karena jumlah zat pengendap yang dubutuhkan untuk pengendapan tidak dikatahui dengan pasti. Penambahan zat pengendap yang berlebihan ini juga akan mengurangi kehilangan endapan. Misalnya jika pengendapan ion kalsium sebagai ion oksalat dipertimbangkan, maka kelebihan ion oksalat akan menggeser kesetimbangan reaksi pengendapan ke arah pembentukan endapan kalium oksalat seperti berikut:
Ca2+ + C2O42- CaC2O4
Dan yang ke dua, endapan yang terbentuk harus cukup murni dan dapat diperoleh dalam bentuk yang cocok untuk pengolahan selanjutnya. Endapan yang terbentuk hablur kasar lebih cocok untuk pengolahan selanjutnya dalam gravimetri daripada endapan yang berbentuk hablur halus atau endapan yang takberbentuk. Sedangkan pengolahan selanjutnya itu akan menghasilkan senyawa yang akan ditimbang yang mengandung zat yang ditentukan. Bentuk senyawa ini dinamakan bentuk timbang yang harus murni secara kimia, mantap dan mempunyai susunan stoikiometri yang pasti. Selain itu, bentuk-timbang ini harus mempunyai bobot rumus yang besar karena endapan akan mengandung zat yang ditentukan lebih kecil sehingga kesalahan-kesalahan dalam penyaringan, penimbangan dan sebagainya akan mempunyai pengaruh yang kecil pada hasil penentuan zat. Persentase zat yang ditentukan dalam bentuk-timbang itu dinamakan Faktor Perubahan atau Faktor Gravimetri.
Analisis gravimetri adalah suatu cara analisis kuantitatif dengan penimbangan berat zat setelah diperlakukan sedemikain rupa sehingga zat tersebut diketahui rumus molekul dengan pasti dan berada dalam keadaan stabil. Komponen yang akan ditentukan diubah menjadi suatu endapan yang stabil dan selanjutnya dapat diubah menjadi bentuk senyawa yang mudah untuk ditimbang.
Penentuan suatu zat dengan cara gravimetri umumnya dilakukan dengan reaksi kimia:
aA + bB AaBb
dimana senyawa yang dihasilkan mempunyai kelarutan yang kecil dalam pelarut yang digunakan. Senyawa ini dipisahkan dari larutannya dengan cara penyaringan kemudian dikeringkan dan dipijarkan. Selama pemijaran, bentuk asli dapat berubah menjadi senyawa lain tetapi komposisinya diketahui, kemudian ditentukan kadarnya. Sebagai contoh, ion kalsium diendapkan sebagai kalsium oksalat, tetapi setelah dipijarkan dapat ditimbang sebagai CaC2O4 atau sebagai CaCO3 atau sebagai CaO tergantung pada kondisi pemijarannya. Agar analisis tersebut dapat berlangsung dengan baik, ada beberapa sayarat yang harus dipatuhi yaitu, 1). Proses pemijaran harus sempurna dan sisa analit (zat yang akan ditentukan) yang tertinggal dalam larutan harus cukup sedikit untuk dapat diabaikan dengan kata lain pengendapan harus kuantitatif, 2). Endapan yang terbentuk harus dapat dipisahkan dengan mudah dari larutannya dan 3). Zat yang ditimbang harus mempunyai susunan stoikiometri tertentu dan harus bersifat murni atau dapat dimurnikan lebih lanjut.
Pada temperatur tertentu, kelarutan zat dalam pelarut tertentu didefinisikan sebagai jumlahnya bila dilarutkan pada pelarut yang diketahui beratnya dan zat tersebut mencapai kesetimbangan dengan pelarut itu. Hal ini tergantung pada ukuran partikel. Larutan lewat jenuh adalah larutan dengan konsentrasi zat terlarut lebih besar dibandingkan dalam keadaan kesetimbangan pada suhu tertentu. Larutan lewat jenuh merupakan keadaan yang tidak stabil dan dapat diubah menjadi keadaan kesetimbangan dengan menambahkan kristal zat terlarut yang disebut dengan seeding.
Analisis gravimetri adalah proses isolasi dan pengukuran berat suatu unsur atau senyawa tertentu. Bagian terbesar dari penentuan secara analisis gravimetri meliputi transformasi unsur atau radikal kesenyawa murni stabil yang dapat segera diubah menjadi bentuk yang dapat ditimbang dengan teliti. Berat unsur dihitung berdasarkan rumus senyawa dan berat atom unsur-unsur yang mennyusunya. Pemisahan unsur-unsur atau senyawa yang dikandung dilakukan dengan beberapa cara, seperti; metode pengendapan, metode penguapan, metode elektroanalisis atau berbagai macam metode lainnya. Metode gravimetri memakan waktu yang lama, adanya pengotor pada konstituen dapat diuji dan bila perlu faktor-faktor koreksi dapat digunakan.
Ketika terjadi pengendapan, ukuran pertikel endapan ditentukan oleh laju relatif dari dua proses berikut: 1). Pembentukan inti yang disebut nukleasi. 2). Pembentukan inti-inti ini untuk membentuk partikel-partikel yang cukup besar untuk mengendap. Jika laju nukleasi lebih kecil dibandingkan dengan laju pertumbuhan inti, maka hanya dihasilkan partikel dengan jumlah yamg sedikit, namun ukurannya relatif besar. Endapan seperti ini lebih mudah disaring dan sering kali lebih murni daripada endapan yang ukuran partikelnya relatif kecil.
Banyak sekali reaksi yang digunakan dalam analisis anorganik kualitatif melibatkan pem entukan endapan. Endapan adalah zat yang memisahkan diri sebagai suatu fase padat keluar dari larutan. Endapan mungkin berupa kristal (kristalin) atau kollid dan dapat dikeluarkan dari larutan dengan cara penyaringan atau pemusingan (centrifuge). Endapan terbentuk jika larutan menjadi terlalu jenuh dengan zat yang bersangkutan. Kelarutan suatu endapan menurut definisi adalah sama dengan konsentrasi molar dari larutan jenuhnya. Kelarutan bergantung pada berbagai kondisi, seperti suhu, tekanan, konsentrasi bahan-bahan lain dalam larutan itu dan pada komposisi pelarutnya.
Perubahan kelarutan dengan tekanan tak mempunyai arti penting yang praktis dalam analisis anorganik kualitatif, karena semua pekerjaan dilakukan dalam bejana terbuka pada tekanan atmosfer. Perubahan yang sedikit dari tekanan atmosfer tak mempunyai pengaruh yang berarti atas kelarutan. Terlebih penting adalah perubahan kelarutan dengan suhu. Umumnya dapat dikatakan bahwa kelarutan endapan bertambah besar dengan kenaikan suhu, meskipun dalam beberapa hal yang istimewa, yang terjadi seballiknya. Laju kenaikan kelarutan dengan suhu berbeda-beda dalam beberapa hal sangat kecil sekali, dalam hal-hal lainnya sangat besar. Perubahan kelarutan dengan komposisi pelarut mempunyai sedikit atri penting dalam analisis kualitatif. Meskipun kebanyakan pengujian dilakukan dalam air, dalam beberapa hal lebih menguntungkan bila memakai zat lain (seperi alkohol, eter dan sebagainya) sebagai pelarut. Pemisahan logam-logam alkali misalnya, dapat dicapai dengan mengekstraksi garam-garamnya secara selektif dengan berbagai pelarut. Dalam hal-hal lain reagensia yang dipakai dalam pelarut dan penambahan reagensia itu pada larutan uji sebenarnya mengubah komposisi medium.
Suatu sampel yang akan ditentukan seara gravimetri mula-mula ditimbang secara kuantitatif, dilarutkan dalam pelarut tertentu kemudian diendapkan kembali dengan reagen tertentu. Senyawa yang dihasilkan harus memenuhi sarat yaitu memiliki kelarutan sangat kecil sehingga bisa mengendap kembali dan dapat dianalisis dengan cara menimbang. Endapan yang terbentuk harus berukuran lebih besar dari pada pori-pori alat penyaring (kertas saring), kemudian endapan tersebut dicuci dengan larutan elektrolit yang mengandung ion sejenis dengan ion endapan. Hal ini dilakukan untuk melarutkan pengotor yang terdapat dipermukaan endapan dan memaksimalkan endapan. Endapan yang terbentuk dikeringkan pada suhu 100-130 derajat celcius atau dipijarkan sampai suhu 800 derajat celcius tergantung suhu dekomposisi dari analit. Pengendapan kation misalnya, pengendapan sebagai garam sulfida, pengendapan nikel dengan DMG, pengendapan perak dengan klorida atau logam hidroksida dengan mengetur pH larutan. Penambahan reagen dilakukan secara berlebihan untuk memperkecil kelarutan produk yang diinginkan:
aA +rR ———-> AaRr(s).
Cara lain untuk mendapatkan endapan hablur kasar adalah dengan pemeraman endapan dalam cairan induknya. Pemeraman endapan adalah proses pendiaman endapan dalam cairan induknya. Pemeraman seperti ini menyebabkan luas permukaan endapan berkurang karena hablur-hablur yang lebih kecil. Selain itu, perubahan lain bisa pula terjadi selama selama proses pemeraman, seperti perubahan bentuk yang lebih mantap, perubahan susunan kimia endapan dan penghabluran kembali.
Tujuan mencuci endapan adalah untuk menghilangkan konsentrasi pada permukaan. Komposisi larutan larutan pencuci tergantung pada kecenderungan terjadinya presipitasi. Untuk pencucian digunakan larutan elektrolit kuat dan dia harus mengandung ion sejenis dengan endapan untuk mengurangi kelarutan endapan. Larutan tersebut juga harus mudah menguap agar mudah untuk menimbang endapannya. Garam amonium dapat digunakan sebagai cairan pencuci. Larutan panas lebih disukai. Larutan pencuci terbagi menjadi tiga kelompok yaitu: 1). Larutan yang mencegah terbentuknya koloid yang dapat mengakibatkan dapat lewat kertas saring, misalnya: penggunaan amonium nitrat untuk mencuci endapan ferihidroksida. 2). Larutan yang mengurangi kelarutan dari endapan, misalnya: alkohol. 3). Larutan yang dapat mencegah hidrolisis garam dari asam lemah atau basa lemah .
Endapan mungkin mengandung air akibat absorbsi, oklusi, penyerapan dan hidrasi. Tempratur pembakaran ditentukan berdasarkan pada sifat kimia zat. Pemanasan harus diteruskan sampai beratnya tetap dan seragam. Berat dari abu kertas sering harus pula diperhitungkan.
Metode penguapan dalam analisis gravimetri digunakan untuk menetapkan komponen-komponen dari suatu senyawa yang relatif mudah menguap. Cara yang dilakukan dalam metode ini dapat dilakukan dengan cara pemanasan dalam gas tertentu atau penambahan suatu pereaksi tertentu sehingga komponen yang tidak diinginkan mudah menguap atau penambahan suatu pereaksi tertentu sehingga komponen yang diinginkan tidak mudah menguap. Metode penguapan ini dapat digunakan untuk menentukan kadar air (hidrat) dalam suatu senyawa atau kadar air dalam suatu sampel basah. Berat sampel sebelum dipanaskan merupakan berat senyawa dan berat air kristal yang menguap. Pemanasan untuk menguapkan air kristal adalah 110-130 derajat celcius, garam-garam anorganik banyak yang bersifat higroskopis sehingga dapat ditentukan kadar hidrat/air yang terikat sebagai air kristal .
Metode elektrolisis dilakukan dengan cara mereduksi ion-ion logam terlarut menjadi endapan logam. Ion-ion logam berada dalam bentuk kation apabila dialiri dengan arus listrikndengan besar tertentu dalam waktu tertentu maka akan terjadi reaksi reduksi menjadi logam dengan bilangan oksidasi 0. Endapan yang terbentuk selanjutnya dapat ditentukan berdasarkan beratnya, misalnya mengendapkan tembaga terlarut dalam suatu sampel cair dengan cara mereduksi. Cara elektrolisis ini dapat diberlakukan pada sampel yang diduga mengandung kadar logam terlarut cukup besar seperti air limbah. Suatu analisis gravimetri dilakukan apabila kadar analit yang terdapat dalam sampel relatif besar sehingga dapat diendapkan dan ditimbang. Apabila kadar analit dalam sampel hanya berupa unsurpelarut, maka metode gravimetri tidak mendapat hasil yang teliti. Sampel yang dapat dianalisis dengan metode gravimetri dapat berupa sampel padat maupun sampel cair.
Dari berat endapan yang didapat harus dapat dihitung jumlah atau banyaknya analit yang diinginkan. Untuk menghitung ini diperlukan faktor kimia atau faktor gravimetri yaitu jumlah gram analit per satu gram endapan atau dapat juga dikatakan sebagai angka banding banyaknya analit setara dengan banyaknya endapan yang diperoleh. Misalnya pada endapan BaSO¬4, factor kimia BaO adalah BaO/BaSO4 yaitu berat 1 mol BaO dibandingkan 1 mol BaSO4.
Persentase analit dalam contoh dapat dihitung:
%A = (berat analit)/(berat contoh) ×100
Berat analit = faktor gravimetri x berat endapan, maka
%A = (faktor gravimetrik ×berat endapan (setelah pemijaran))/(berat contoh) ×100

Sebagian endapan dapat dikeringkan secukupnya untuk penentuan analittik tanpa harus melalui temperatur yang tinggi. Misalnya, MgNH4PO4.6H2O, kadang-kadang dikeringkan dengan cara menggunakan suatu campuran alkohol dan eter dan menyaring air dari endapan selama beberapa menit. Namun, prosedur ini normalnya tidak disarankan karena bahaya dari penghilangan air yang tidak tuntas dengan pencucian.
Dalam pengeringan, sebagian endapan langsung kehilangan air dalam suatu oven pada temperatur 100oC hingga 130oC. perak klorida tidak mengadsorpsi air dengan kuat dan biasanya dikeringkan dengan cara tertentu untuk pekerjaan analitik biasa. Namun dalam penentuan berat atom, ternyata kita perlu meleburkan AgCl untuk menghilangkan runut-runut terakhir dari air.
Pembakaran pada temperatur tinggi diperlukan untuk penghilangan secara sempurna air yang terkepung atau terabsobsi sangat kuat dan untuk konversi seluruhnya dari sebagian endapan menjadi senyawa yang diinginkan. Endapan bersifat gelatin seperti hidrous oksida mengadsobsi air agak kuat dan dipanaskan sampai temperatur yang sangat tinggi untuk menghilangkan seluruhnya. Pembakaran CaC2O4 menjadi CaO adalah contoh suatu pembakaran kimia yang memerlukan temperatur yang tinggi untuk reaksi yang sempurna.
Kini tersedia instrument komersial yang serba otomatis dan bisa diprogram. Ada satu penganalisis termogravimetrik sampel ganda komersial yang bisa menangani hingga 19 sampel tanpa diawasi. Piringan sampel dan neraca penimbangannya terletak didalam tanur dan seluruh penimbangan dilakukan secara otomatis. Instrument tersebut dapt diprogram untuk melakukan sebanyak lima tahap kehilangan berat tiap program. Temperatur, laju peningkatan temperatur dan gas atmosfer (oksigen atau nitrogen) dapat dipilih untuk tiap tahap. Penerapan instrument ini antara lain untuk melakukan pengukuran kehilangan pada pembakaran semen, penentuan kadar air dan abu dari produk-produk makanan dan pertanian serta analisis komposisi polimer, karet dan keramik.








BAB III
METODEOLOGI PERCOBAAN

Waktu Dan Tempat
Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum ini yaitu pada :
Hari : Jumat , 15 April 2011
Waktu : Pukul 08.00 WITA – selesai
Tempat : Laboratorium Analitik UIN Alauddin makassar

Alat dan bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
Alat
Tanur 1 Buah
Eksikator 1 Buah
Hot plate 2 Buah
Neraca digital 1 Buah
Kaos tangan asbes 1 Buah
Gelas piala 500 ml 1 Buah
Gelas piala 300 mL 2 Buah
Gelas ukur 250 mL 1 Buah
Erlemeyer 1 Buah
Cawan 2 Buah
Corong 1 Buah
Pembakar bunsen 1 buah
Kaki tiga 1 Buah
Asbes 1 Buah
Pipet skala 10 mL 1 Buah
Pinset 1 Buah
Botol semprot 1 Buah
Pipet tetes 2 Buah
Pengaduk 1 Buah
Bahan
Aquadest
Larutan AgNO3
Larutan BaCl2
Larutan BaSO4
Larutan HCl
Kertas saring

Prosedur kerja
Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
Menimbang dengan teliti garam sulfat (BaSO4) sebanyak 0,3 gram, mamasukkannya ke dalam gelas piala 400 mL yang dilengkapi dengan batang pengaduk dan gelas arloji
Melarutkan dengan 25 mL aquadest, menambahkan 0,5 mL HCl pekat lalu mengencerkannya hingga volume menjadi 200 mL
Mendidihkan dan menetesi larutan BaCl2 sebanyak 10 mL ke dalam larutan
Membiarkan mengendap selama 1-2 menit, menguji filtratnya dengan BaCl2 untuk mengetahui apakah endapan sempurna.
Memanaskan dalam penangas air selama 30 menit agar pengendapan sempurna, juga volumenya tidak kurang dari 150 mL (Bila perlu menambahkannya dengan akuades). Membilas tutupnya ke dalam gelas piala.
Menguji lagi apakah pengendapan sudah sempurna. Jika tidak terbentuk endapan larutan disaring.
Memindahkan endapan secara kuantitatif ke dalam kertas saring dan mencucinya sebanyak 10 kali dengan air panas. Pencucian sempurna apabila 5 mL air cucian tidak menimbulkan kelarutan dengan menambahkannya 2 tetes AgNO3.
Melipat kertas saring hingga menutup endapan kemudian memasukkannya ke dalam cawan porselin yang diketahui beratnya.
Membakar dalam tanur pada temperatur 800 oC ± 5 oC selama 1 jam.
Mendinginkan dalam eksikator, kemudian menimbang sampai bobot tetap.




BAB VII
HASIL DAN PEMBAHAS

Hasil Pengamatan
Adapun hasil yang diperoleh dari percobaan ini adalah:
0,3 g BaSO4(s) + 25 mL H2O(aq) + 0,5 mL HCl(l) larutan putih larutan putih + 12 mL BaCl2(s) uji BaCl2 larutan larutan larutan
endapan saring dan cuci 10 kali larutan + endapan larutan uji AgNO3 endapan. Endapan bakar endapan pijarkan endapan (abu) desikator endapan timbang bobot tetap.

Reakasi
BaSO4(s) Ba2+(aq) + SO42-(aq)
BaCl2(s) Ba2+(aq) + Cl2-(aq)
Ba2+ (aq) + SO4 2- (aq) BaSO4 (s)

Analisa Data
Dik. Bobot sampel = 0,3 gram
Bobot cawan = 33,9621 gram
Bobot –pemijaran I = 34, 2586 gram
II = 34, 2574 gram
III = 34, 2584 gram
IV = 34, 2540 gram
V = 34, 2539 gram
Peny:
Bobot endapan: 34,2539 g – 33,9621 g = 0,1918 gram
% SO4 = ((mr SO4)/(mr BaSO4) . bobot endapan)/(bobot sampel) x 100
= ( (32+64)/(13714+32+64) × o,1918 g)/(0,3 g) ×100
= (96/233,4 ×0,1918 g)/(0,3 g) ×100
= (0,4113 ×0,1918 g)/(0,3 g) ×100
= 26,2964 %

Pembahasan
Analisis gravimetri adalah suatu cara analisis kuantitatif dengan penimbangan berat zat setelah diperlakukan sedemikain rupa sehingga zat tersebut diketahui rumus molekul dengan pasti dan berada dalam keadaan stabil. Komponen yang akan ditentukan diubah menjadi suatu endapan yang stabil dan selanjutnya dapat diubah menjadi bentuk senyawa yang mudah untuk ditimbang.
Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini antara lain, larutan AgNO3, larutan BaCl2, larutan BaSO4 dan larutan HCl. Dimana larutan AgNO3 digunakan sebagai bahan untuk mencuci endapan, larutan BaCl2 berfungsi untuk mempercepat endapan, larutan BaSO4 merupakan sampel yang akan diuji dan larutan HCl pada percobaan ini berfungssi sebagai pelarut sampel.
Penyaringan dilakukan untuk memisahkan antara residu dan filtratnya, yang disertai dengan pencucian terhadap wadah sebanyak 10 kali dan pencucian juga dilakukan dengan penambahan AgNO3 yang berfungsi untuk mengikat Cl menjadi AgCl, kemudian endapan dimasukkan dalam cawan porselin yang telah dikatahui bobotnya.
Selanjutnya dilakukan pembakaran atau pemanasan dengan menggunakan hot plate dengan tujuan untuk mempercepat terjadinya endapan sebelum dilakukan pemijaran.
Pemijaran dilakukan selama 1 jam didalam tanur dengan suhu 800oC. pemijaran dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan air pada sampel sebelum dilakukan penimbangan terhadap endapan tersebut. Pemijaran kemudian dihentikan dengan memasukkan endapan pada eksikator, ini berfungsi agar uap air yang ada pada proses pendinginan endapan hilang dengan bobot yang tetap, selanjutnya dilakukan penimbangan dengan menggunakan neraca analitik untuk mengetahui bobot endapan. Proses pemijaran, pendinginan dan penimbangan ini sendiri dilakukan sampai lima kali, hingga bobot endapan tetap dengan indikator perbedaan berat penimbangan sebelumnya dengan penimbangan selanjutnya diperoleh hasil timbangan berturut-turut, 34,2586 gram, 34,2574 gram, 34,2584 gram, 34,2540 gram dan 34,2539 gram. Dan hasil persentase dari SO4 sebasar 26,2964 %.





BAB V
PENUTUP

Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari percobaan ini ialah kadar yang diperoleh dari SO4 adalah 26,2964% setelah endapan dipijarkan pada suhu 800oC.

Saran
Adapun saran setelah melakukan percobaan ini adalah sebaiknya pada uji gravimetri dilakukan pengamatan yang lebih baik agar hasil yang diperoleh sesuai dan tidak memakan waktu yang lama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar